Robo-Journalism dalam Dunia Jurnalistik
Hai semuanya J berjumpa lagi dengan tulisan saya, kali ini akan membahas tentang jurnalis robot dalam dunia jurnalisme. Langsung saja ya…
![]() |
| Image1 |
Jadi apa dan bagaimana sih jurnalis robot itu?
Robo-Journalis atau Jurnalis Robot merupakan jurnalisme yang menggunakan bantuan mesin/komputer tanpa campur tangan reporter/manusia untuk menghasilkan laporan/artikel. Jurnalisme robot sediri merupakan pengembangan dari teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning. Jadi robot yang dimaksud bukanlah robot fisik namun robot disini dimaknai sebagai sebuah sistem yang ditanamkan dalam perangkat lunak komputer sehingga dapat bekerja sesuai dengan alogaritmanya.
Jurnalis robot didasarkan pada dua pilar:
1. Perangkat lunak komputer yang secara otomatis mengekstrak pengetahuan baru dari big data.
2. Automasi algoritma yang mengubah pengetahuan menjadi cerita atau narasi sederhana tanpa keterlibatan manusia.
Cara kerja jurnalis robot adalah dengan mengidentifikasi kecenderungan (trend) atau pola dan mempublikasikan artikel dalam format tertentu. Jurnalis robot hanya dapat menulis laporan/artikel/berita dari data yang sifatnya statistik dan berulang, jurnalis robot mengambil data-data tersebut dari big data yang tentunya yang kredibel dan bersifat data publik pula. Kemudian dari data-data tersebut diubah menjadi narasi sederhana, yang selanjutnya dilaporkan oleh jurnalis robot itu sendiri.
Lalu apakah dengan adanya jurnalis robot maka peran manusia sebagai pewarta berita akan tergantikan?
Menurut saya jurnalis robot masih belum bisa menggantikan peran jurnalis manusia seutuhnya, karena jurnalis robot masih mempunyai berbagai kekurangan yaitu:
a. Jurnalis robot dengan perkembangannya saat ini belum seutuhnya mengenal etika jurnalisme layaknya manusia yang memiliki kesadaran akan etika.
b. Jurnalis robot tidak memiliki rasa, sehingga laporan yang dihasilkan masih terasa kaku.
c. Jurnalis robot tidak bisa mewawancarai narasumber, sehingga laporan yang dihasilkan kurang mendalam.
d. Jurnalis robot hanya bisa membuat laporan dari peristiwa yang konsisten dan berulang, mempunyai data yang sistematis, sehingga laporan yang mendalam dan tidak berulang belum bisa dihasilkan oleh jurnalis robot.
Dapat disimpulkan bahwa dengan adanya Jurnalis robot maka hanya dapat menggantikan kerja jurnalis manusia dalam menulis laporan/artikel/berita yang sifatnya statistik dan berulang, sehingga membuat jurnalis manusia dapat mengerjakan laporan/artikel/berita yang sifatnya analisis dan mendalam. Jurnalis manusia masih harus turun ke lapangan untuk berita lebih berat, memerlukan wawancara, dan yang datanya harus diverifikasi terlebih dahulu. Jurnalis robot hanya sebatas membantu pelaporan dan penulisan berita yang bersifat tidak perlu konfirmasi pada sumber berita, karena diambil dari big data atau pusat data yang kredibel dan datanya berstatus data publik.
b. Jurnalis robot tidak memiliki rasa, sehingga laporan yang dihasilkan masih terasa kaku.
c. Jurnalis robot tidak bisa mewawancarai narasumber, sehingga laporan yang dihasilkan kurang mendalam.
d. Jurnalis robot hanya bisa membuat laporan dari peristiwa yang konsisten dan berulang, mempunyai data yang sistematis, sehingga laporan yang mendalam dan tidak berulang belum bisa dihasilkan oleh jurnalis robot.
Dapat disimpulkan bahwa dengan adanya Jurnalis robot maka hanya dapat menggantikan kerja jurnalis manusia dalam menulis laporan/artikel/berita yang sifatnya statistik dan berulang, sehingga membuat jurnalis manusia dapat mengerjakan laporan/artikel/berita yang sifatnya analisis dan mendalam. Jurnalis manusia masih harus turun ke lapangan untuk berita lebih berat, memerlukan wawancara, dan yang datanya harus diverifikasi terlebih dahulu. Jurnalis robot hanya sebatas membantu pelaporan dan penulisan berita yang bersifat tidak perlu konfirmasi pada sumber berita, karena diambil dari big data atau pusat data yang kredibel dan datanya berstatus data publik.
Apakah dengan presisi robot masih akan memunculkan kesalahan berita?
Kemungkinan kesalahan berita masih bisa saja terjadi, pada penggunaan AI dalam artikel berita juga dapat menghasilkan disinformasi bila data yang dipergunakan oleh sistem ternyata salah. Misalnya pada kasus yang dialami oleh LA Times pada saat itu LA Times melaporkan terjadinya gempa bumi dengan magnitude 6,8 di California. Padahal penduduk setempat tidak merasakan getaran apapun saat itu. Ternyata, kesalahan laporan ini disebabkan karena staf USGS baru saja mempublikasikan data gempa yang terjadi pada tahun 1925. Kesalahan informasi tersebut tidak terhindarkan sebab algoritma tidak mampu melakukan klarifikasi dan verifikasi ke berbagai sumber seperti yang dilakukan oleh jurnalis manusia.
Bagaimana dengan identitas jurnalis digital dan jurnalis tradisional dengan kehadiran robo-jurnalis?
Menurut saya identitas jurnalis tradisional tidak mengalami perubahan identitas, namun untuk identitas jurnalis digital yang muncul adalah:
- Jurnalis digital bukan lagi yang tercepat dalam menyampaikan sebuah informasi,
- Jurnalis digital bisa dikatakan mematahkan stereotype hanya mencari keuntungan semata, karena jurnalis digital mulai membuat indepth reporting atau laporan yang mendalam.
- Kerja jurnalis digital makin jelas, bukan sekedar copy paste dari media lain.
- Jurnalis digital bisa dikatakan mematahkan stereotype hanya mencari keuntungan semata, karena jurnalis digital mulai membuat indepth reporting atau laporan yang mendalam.
- Kerja jurnalis digital makin jelas, bukan sekedar copy paste dari media lain.
Nah,
sekian pembahasan tentang jurnalis robot kali ini, sampai bertemu ditulisan
berikutnya. see ya J
Referensi:
Amran, S. Oktika dan Irwansyah. 2018. “Jurnalisme Robot dalam Media Daring Beritagar.id”. Jurnal IPTEK-KOM. Vol. 20 (2)
Aiestyani, Kencana. 2019. “Meninjau Automated Journalism: Tantangan dan Peluang di Industri Media Indonesia”. Jurnal Konvergensi. Vol. 01(01)

Komentar
Posting Komentar